Berhenti Menyalahkan Orang Lain

Sumber gambar: www.indoblognet.com


Tulisan di bawah ini adalah kumpulan tulisan dari siswa sekolah artikel tentang menyalahkan orang lain.


Rasanya enak banget, ketika melemparkan kesalahan kepada orang lain alias menyalahkan orang lain.  Bagaimana tidak. Harga diri terselamatkan. Siapa sih yang mau harga dirinya direndahkan, apalagi kalau di depan umum.

Tapi tahukah Anda, bahwa ketika Anda menyalahkan orang lain, sebenarnya anda telah mengumumkan bahwa diri anda bersalah. Terlepas seberapa besar keterlibatan Anda dalam kesalahan tersebut.

Karena pada dasarnya sifat manusia itu baik. Saat melakukan pembelaan dengan menyalahkan orang lain, Anda sedang mengingkari sifat dasar Anda.  

Selain itu nabi Adam sudah memberikan contoh untuk kita diteladani. Alih-alih menyalahkan setan yang telah menggodanya, sehingga  diusir dari surga.  Nabi Adam malah minta ampun kepada Allah, karena telah menzalimi dirinya.

(Ivone)




Perilaku menyalahkan orang lain banyak terjadi di sekitar kita. Percaya atau tidak sering kita jumpai sikap menyalahkan orang lain terjadi tanpa ada rasa bersalah. Menyalahkan kepada orang lain atas perbuatan yang tidak diperbuatnya tidak akan menyelesaikan masalah.

Mental menyalahkan ini, sudah menjadi kebiasaan buruk dalam diri. Bagaimana dengan kita? Jangan-jangan kita sama saja dengan orang yang kita salahkan.

Janganlah kita saling menyalahkan, namun alangkah baiknya saling berbagi untuk menyelesaikan suatu urusan.

Persoalan-persoalan akan terselesaikan dengan baik tanpa perlu menyalahkan orang lain.

(Lucyana)




Kebiasaan yang paling umum bagi mayoritas orang adalah menyalahkan orang lain. Watak ini berkembang akibat merasa diri selalu benar. Sedangkan orang lain dianggap selalu salah. Dunia dipandang hitam putih. Apa yang tidak sesuai seleranya, mutlak dianggap salah. Menyalahkan orang lain telah menjadi kesenangan bagi banyak orang. 

Kebiasaan menyalahkan orang lain bisa juga disebabkan untuk berkelit dari masalah yang dialaminya. Hanya dengan mencari kambing hitam, seolah masalah akan selesai. Padahal menyalahkan orang lain akan menambah masalah baru. Apakah dengan melemparkan 'kotoran' ke halaman tetangga, kita lantas terbebas dari bau busuknya? 

Di dalam agama apapun, perbuatan menyalahkan orang lain, dengan mengatakan 'sesat' atau bid'ah juga termasuk dilarang. Bahkan apabila tidak terbukti, ia akan kembali kepada yang menuduhkannya. Selain itu, menyalahkan orang lain akan memutus tali persaudaraan. Orang mana yang mau disalahkan? Tentu tidak ada yang mau dianggap salah. Semua orang cenderung senang jika dianggap benar, meskipun sebenarnya salah. 

(Apriliyantino)




Salah satu hal yang teramat mudah dilaksanakan dalam hidup adalah menyalahkan orang lain. Terutama ketika seseorang sedang terpojok dalam sudut kesalahan. Pada kondisi tersebut, menyalahkan orang lain merupakan jurus jitu untuk segera lepas dari suatu masalah.

Namun, sikap menyalahkan orang lain ini termasuk sikap yang kurang baik. Menyalahkan orang lain dapat menyebabkan suatu masalah menjadi semakin rumit dan kusut. Selain itu, sikap yang negatif ini dapat menjerumuskan orang lain yang belum tentu bersalah ke dalam lingkar permasalahan tersebut.

Bagaimana agar bisa terhindar dari sikap ini? Menanamkan pola pikir untuk mencari jalan keluar dan mencari berbagai alternatif penyebab masalah dapat menghindari seseorang dari sikap buruk ini. 

Bagaimana jika kita sendiri yang menghadapi orang yang sering menyalahkan orang lain? Berlakulah bijak untuk bisa mengungkapkan bahwa sebaiknya tidak menyalahkan orang lain dulu. Lebih baik untuk meneliti masalah yang ada terlebih dahulu sebelum bisa menyalahkan orang lain. 

Semoga kita dapat terhindar dari sikap buruk ini. Hal yang sangat penting untuk diingat dan dicatat bahwa dengan menyalahkan orang lain dapat menyebabkan timbulnya fitnah dan kezaliman. 

(Deasy Pertiwi)




Sesuatu yang paling mudah terjadi dewasa ini, adalah menyalahkan orang lain. Begitu mudah kita saling menyalahkan, bahkan menghujat sudah menjadi kebiasaan. 

Adat ketimuran, memang semakin luntur. Dimana rasa teposliro antar anggota masyarakat tak lagi menghiasi keseharian masyarakat Indonesia. 

Tentu, banyak faktor yang mempengaruhinya, hingga adat ketimuran terkikis sedikit demi sedikit. Apalagi di era digital seperti saat ini. Kita dengan mudah mendapatkan informasi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini secara otomatis merubah mindset masyarakat kita.

(Arofah)




Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk sebaik-baiknya. Allah sempurnakan dalam fisik, akal, dan ruhiyah yang berbeda dari makhluk ciptaan Allah lainnya.

Dengan kesempurnaan ini,ada kalanya manusia lupa dan khilaf saat  berinteraksi dengan sesamanya.
Salah satunya merasa diri paling benar dari orang lain dan ini sering dimiliki oleh orang-orang yg ujub/sombong. Cara berpikirnya mudah menyalahkan orang lain dan tidak bisa mengendalikan emosi. Karena selama ini dia mengganggap, Allah memberikan segala kelebihan duniawi untuknya sehingga menganggap orang lain rendah. 

Dalam sebuah kepanitian atau organisasi,tipe orang seperti ini cendrung mudah menyalahkan orang lain jika kegiatan yang sudah direncanakan tidak sesuai berjalan sesuai perencanaan. Dia akan melampiaskan emosinya kepada orang lain, tapi dia lupa kalau sudah menzolimi orang lain. Maka perbanyaklah istighfar untuk orang-orang yang memiliki sifat seperti ini,agar jiwanya tidak mudah dikuasai setan.

(Rina Suciati)




Bagi setiap muslim berprasangka buruk kepada orang lain merupakan larangan yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya, apalagi kalau langsung menyalakan orang lain sedangkan kebenarannya belum terbukti,  nah yang begini nanti menjadi fitnah bahkan sampai mencari-cari keburukan orang lain serta dijadikan pergunjingan diantara mereka yang seperti ini, Allah mencontohkan seperti memakan daging saudaƕanya sendiri.

Kebanyakan orang-orang yang sering nenggunjing itu karena mempunyai sifat-sifat tercelah seperti iri dan dengki terhadap orang lain.

Menyalakan orang lain atau berbuat iri dan dengki merupakan perbuatan yang tidak terpuji, harus di hindari oleh orang muslim karena Allah melarang orang yang selalu menggunjing satu sama lainnya karena petbuatan seperti itu seperti memakan daging saudaranya srndiri.

(Ropadi)




Kambing hitam? Istilah yang tentu tidak asing di telinga kita. Namun pasti tidak ada satu orang pun yang mau dijadikan kambing hitam. 

Bayangkan jika ada seseorang yang berbuat satu kesalahan kemudian dia menuduh kita penyababnya, bagaimana rasanya? Hancur hati berkeping-keping ... Hehehe 

Sikap kesatria. Yaa ... Seyogyanya kita harus berani mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang kita lakukan. Jika berbuat salah harus berani meminta maaf dan memperbaiki diri, jangan mencari pembenaran apalagi mengkambinghitamkan orang lain. Sungguh berdosa jika hal itu yang dilakukan. 

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana menanamkan sikap kesatria? Sehingga tidak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita perbuat.

Menginternalisasikan nilai-nilai agama adalah kuncinya. Meyakini bahwa setiap perbuatan pasti ada pembalasannya. Jika baik pasti akan dibalas kebaikan dan sebaliknya. Jadi jika kita ingin selalu bertabur kebaikan yaa harus menanam yang baik-baik, termasuk di dalamnya jangan suka mengkambinghitamkan orang lain atas kesalahan yang kita perbuat. 

(Elsinah)




Sering dari kita gagal menjalin hubungan karena kita sering menyalahkan orang lain. Menilai kekurangan orang akan membuat pikiran kita senantiasa dipenuhi pikiran negatif akan orang tersebut. Yang pada akhirnya setiap pikiran kita akan berpengaruh pada ekspresi, tindakan, dan bahasa tubuh kita kepada teman yang kita sayangi. Ingatlah selalu hukum setiap apa yang kita pikirkan akan terwujud dalam kenyataan. Semua diawali oleh pikiran. 

Menyalahkan orang lain terkadang tidak cukup 1 atau 2 saja, bahkan bisa jadi setiap orang yang kita jumpai kita salahkan, kita selalu cari kekurangannya, baik itu ayah/ibu kita, suami/istri kita, guru kita, semuanya kita salahkan. Hingga akhirnya kita merasa sesak dada, jengkel dan tidak ingin melanjutkan hidup  karena merasa semua orang tidak ada yang menyayangi anda. 

Kawan orang yang suka menyalahkan orang lain biasanya adalah orang yang suka menyalahkan diri sendiri. Dia tidak bisa berdamai dari diri sendiri, selalu mengangap rendah dirinya, memaki kesalahan kecilnya ketika berkaca di depan cermin dan mengangap hidup ini sulit serta semua manusia rakus dan bengis. Apa yang Anda pikirkan akan diri anda akan menjadi standart bagaimana anda menilai orang lain. 

Ingatlah hukum semua berawal dari pikiran lalu tercermin dalam tindakan. Kawan mulailah dengan berpikir dan merasa bahwa anda adalah makhluk luar biasa, lihat setiap kelebihan yang anda miliki, cintai diri anda, sukai tubuh anda, lihat betapa menariknya senyum anda, dan katakan pada diri anda adalah orang yang berbahagia. Katakan senyum dalam hati. 

Ketika anda bangga dan berbahagia rasakan energi positif serasa mengalir ke seluruh tubuh anda. Anda melangkah dengan pasti, dada anda tetap, gesture ramah dan anda akan memandang setiap kelebihan orang lain dan merasa kesalahannya jauh lebih kecil dari kelebihannya. Kesalahanya hanya hikmah yang bisa dipetik untuk kesuksesan dimasa yang akan datang. Sama seperti anda memandang diri anda. Disitulah anda akan memandang dunia. Maafkan dirimu, terimalah dia dan bergembiralah. 

(Al Fath)




Setiap makhluk hidup memiliki respon alamiah untuk melindungi diri dari bahaya atau ancaman yang menimpanya. Pohon jati akan meranggas saat dihantam kemarau. Gurita akan mengeluarkan tinta untuk menghindari musuh. Contoh lain tentunya masih banyak.

Ya, semua makhluk hidup termasuk manusia akan selalu memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya. Meski di atas saya mencoba memunculkan kemampuan bertahan secara fisik, bukan berarti cara bertahan manusia juga hanya sebatas pertahanan fisik saja. Kita coba buka pikiran kita lebih lebar lagilah. 

Manusia adalah makhluk sosial, di mana interaksi sosial antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian manusia. Tentunya dalam proses interaksi tersebut akan muncul konflik. Konflik yang dialami oleh seorang individu dapat bersifat sangat membahayakan baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Nah, dalam kondisi tersebut tidak semua masalah atau ancaman itu dapat diatasi secara fisik. Acapkali cara yang ditempuh adalah dengan menyalahkan orang lain. Kalau dipikir kembali, ada benarnya juga istilah lidah memang tidak bertulang, tapi tajamnya bisa melebih pedang.

Untuk yang tidak pernah menyalahkan orang lain jangan lantas nyinyir lho, ya. Memang tidak semua orang menyalahkan orang lain sebagai benteng pertahanan diri. Perilaku ini dapat terbentuk karena kebiasaan atau lingkungan.

Perilaku yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Artinya apabila seseorang menyalahkan diri sendiri dan menjadikan hal tersebut sebagai sebuah solusi pertahanan diri, maka tidak menutup kemungkinan perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan. Sebuah pilihan dalam menyelesaikan masalahnya.

Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang. Lingkungan dapat diartikan sebagai lingkungan keluarga, sekolah, kerja,  masyarakat, dan lainnya. Berinteraksi atau tumbuh di tengah lingkungan yang kerap menyalahkan orang lain akan memberi dampak untuk terbentuk perilaku yang sama. Mengapa? Karena menyalahkan orang lain dianggap tindakan yang wajar. Padahal perilaku itu jelas merugikan orang lain.

Tidak dipungkiri bahwa perilaku menyalahkan diri sendiri kerap kita temukan. Coba saja, adakah diantara kita yang belum pernah ketiban awu anget ?Toh, menyalahkan orang lain adalah bentuk adaptasi kita sebagi manusia. Wajarkah, ya! Lantas apa pilihan kita? Sebagai makhluk sosial, perlu bagi kita untuk menumbuhkan sikap saling menghargai dan kesatria. Ada tanggung jawab yang semestinya kita tanggung agar kita bisa tumbuh. Setiap kesalahan ibarat pupuk yang akan membuat kita tumbuh lebih baik. Masak iya jatah pupuk kita mau dibagikan terus. Mari menerima kesalahan dengan sikap kesatria, karena kita butuh tumbuh.

(Nuray Anggraini Nurchayat)




Sifat mendasar orang dalam menyikapi suatu persoalan yang terkait dengan dirinya sendiri, masih ada kecendrungan negatif, yaitu menyalahkan orang lain. Entah ini alami atau tidak, namun kecendrungan ini dapat kita dengar dan lihat pada pemberitaan di banyak media cetak dan elektronik.

Sejatinya hal ini bisa diminimalisir, sehingga kita memiliki sifat dan sikap lebih arif bijaksana untuk lebih memuliakan orang lain dengan menempatkan prasangka baik terhadap berbagai persoalan apapun itu. kata orang bijak bahwa perlunya berpikiran positif.

Apa tipsnya? Nah ini sederhana saja, hanya dengan berlatih, berlatih, dan berlatih kesabaran. Mungkinkah dilakukan? Ooo, sangat mungkin, karena tidak ada yang mustahil di muka bumi ini. Maka ayo mencoba dengan sepenuh hati, pasti bisa. Sederhana bukan?

(Wayan Wijanaraga)




Menghela nafas panjang, karena seketika ada sesak menyeruak ketika membaca tema olahraga jempol malam ini. 'Menyalahkan Orang Lain' habbit yang sering saya jumpai dalam perjalanan hidup ini.

Sebuah kebiasaan yang sering dijumpai ketika ada kejadian yang tidak menyenangkan menimpa seseorang atau kelompok. Akan saling mengungkapkan pendapat yang seolah-olah menyalahkan pihak lain, tanpa disadari orang yang berbicara tadi. Menyebalkan lagi, ketika dia diingatkan justru mengelak, 

"Saya tidak menyalahkan, hanya mengungkapkan pendapat dan pandangan saja," padahal yang mendengar merasa tersudut.

Saya menyebut menyalahkan orang lain adalah sebuah penyakit. Penyakit yang lahir dari kebiasaan merasa benar, ego yang bergejolak dari dalam diri yang tidak mau kalah 'saya benar, sudah maksimal, sudah terbaik'. 

Padahal dengan mengoreksi diri sendiri lebih dulu, menjadi bijak dan ksatria. Pikiran menjadi jernih dan bisa melahirkan solusi.

Kebiasaan ini bisa dihilangkan, minimal bisa ditekan dengan niat dan action nyata. Terus ingatkan diri bahwa, kesalahan itu tidak ada yang sempurna pun begitu dengan kebenaran. Agar diri tawadhu' tidak serta merta menunjuk orang lain salah.

Dalam kondisi konflik, baiknya diam sejenak untuk merenung dan berpikir. Menghembuskan nafas agar sedikit rileks. Ubah posisi saat itu, ketika berdiri segera duduk misalnya. Latih diri untuk berkata santun dan menahan emosi. Terus lakukan meski belum sempurna. Semakin bisa, semakin baik, maka akan semakin terbiasa.

Sesungguhnya menunjuk orang lain salah itu lebih sedikit dibandingkan jumlah jari yang mengarah pada diri sendiri.

Di sisi lain kita dituntut untuk cerdas dalam bersikap. Benar dan salah pasti terlihat, bisa ditelusuri. Hanya perlu diperhatikan tutur kalimat yang disampaikan. Sehingga tidak membuat suasana semakin rumit. Masuklah kita pada ranah diskusi atau musyawarah untuk mufakat. 

Ungkapkan pendapat beserta alasan,resiko  dan solusi nya dengan baik. Jangan lupa bersikap kesatria ketika pendapat kita kurang tepat dan siap belajar lebih baik.

(Nining)




Sebagai makhluk sosial tentunya tidak lepas dari interaksi dengan sesama, tapi tergantung, peran apa dan bagaimana sikap kita di sana. Menjadi orang yang sadar akan sesama terasa sulit. Padahal teori-teori tentang toleransi sudah kita dapatkan dari pendidikan terendah sampai perguruan tinggi, layaknya sarapan pagi, sudah menjadi asupan wajib. Tapi, memang benar, pelajaran yang kita dapatkan tidak mudah untuk direalisasikan. Berdiri di atas keyakinan dan tak mau beranjak untuk melihat kebenaran. Itu sifat dasar kita, merasa benar dan berani menyalahkan orang lain.

Kerap kali bahkan sering kita temui serangkaian peristiwa yang di dalamnya banyak kesalahpahaman. Yah, kita menemukan banyak dalam kehidupan. Jangankan menyalahkan orang lain, tuhanpun kerap kita salahkan. Recana sudah tersusun rapi, tentang pertemuan keluarga besar dalam suasana idul fitri, tapi Allah SWT berkehendak lain. Pandemi datang, rencana bubar. "Mungkin kalau nggak ada pandemi kita bisa kumpul." Yah, itu sedikit dari kekecewaan panjang kita di tengah ujian. Padahal, sesuatu telah direncanakan di balik semua oleh yang Maha Kuasa. 

Menyalahkan tuhan saja berani, apalagi makhluk kecil bernama manusia. Terlebih zaman yang semakin maju, media sosial seakan menjadi santapan lezat untuk meluncurkan aksi.  Kebiasaan yang sudah menjadi tradisi. Kritik sana, kritik sini. Menyalahkan itu, menyalahkan ini. Okelah, kalau kita benar-benar berniat baik untuk menyalahkan seseorang. Tapi dengan sesuatu yang bisa menguatkan, megapa kita harus menyalahkan, dan dengan dasar apa ucapan kita harus dibenarkan.

Literasi menjadi hal penting dalam kehidupan. Literasi apapun. Karena puncak dari literasi adalah menjadikan seseorang semakin beretika, mengalami perubahan perilaku, cerdas dalam bersikap.

(Putri Dwi Yanti)




Pada dunia keislaman, ada yang namanya khilafiyah mazhab. Sudah tidak asing lagi bukan mendengar istilah tersebut? Istilah khilafiyah mazhab sederhananya diartikan perbedaan imam mazhab dalam memahami konteks Al-Qur'an dan hadis dalam proses ibadah. Imam mazhab dikenal sebagai orang yang memiliki pemahaman secara kompleks dalam ilmu keislaman. Perbedaan pendapat inilah yang masih diperdebatkan oleh orang-orang sekarang. Apalagi dijadikan sesuatu untuk menyalahkan orang lain karena terkesan fanatik pada satu pendapat saja.

Contoh kasus yaitu perdebatan doa qunut pada shalat subuh. Satu kelompok mengatakan harus memakai doa qunut dan kelompok lain mengatakan tidak pakai doa qunut. Fenomena tersebut berbuntut saling menyalahkan antar kelompok. Sedangkan perbedaan pendapat antar mazhab adalah sesuatu hal yang biasa. Karena pendapat masing-masing imam mazhab masih berada dalam koridor pemahaman Al-Qur'an dan hadis. Adapun imam mazhab yang masyhur dan tersebar pendapatnya ke penjuru dunia ada empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad. 

Upaya para ustadz dalam meminimalisir bahkan menghilangkan fanatisme mazhab dapat dikatakan berhasil. Mereka menggunakan secara menyeluruh ketika membahas suatu khilafiyah antar mazhab dan terus menggencarkan agar saling rukun jika terjadi khilafiyah mazhab antar kelompok  atau individu tertentu. Dan fenomena fanatisme mazhab ini seiring waktu kian berkurang. Karena sudah tersebar informasi-informasi yang diupayakan oleh para ustadz di media massa. Sehingga masyarakat saat ini mulai teredukasi oleh informasi tersebut.

(Ahmad Azhari)

Posting Komentar

0 Komentar