Pesona Deadline VS Buku Menyertai Kayu



Setiap kelas menulis yang kuikuti pasti meberikan tugas penulisan. Tentu saat era digital ini menulis tidak sebatas buku bergaris.

Saat membaca uraian tugas, selalu juga kutandai bintang dengan penebalan huruf. Serta berkhayal andai kutuangkan saja ide ini menjadi #buku. 

Hingga saat kelak sebelum usia genap berkepala empat #lemari pajang menyelipkan karya dengan cara normal serta layak disandingkan nama diri.

Kemampuan menyusun huruf menjadi kata bermakna. Bukan berlatar aku, kamu dan kita selesai sekolah dimana? Karena seorang yang berkebutuhan khusus pun mampu menulis dengan sentuhan literasi nurani. 

Bila terus serius melatih diri mempertajam pena. Bak air #sungai yang menganak, seperti lilitan ular saat kupandangi dari jarak ribuan kaki diatas permukaan laut.

Segenap upaya kukerahkan agar, tidak mencintai waktu dead line. Seperti #pegunungan dengan jejeran pohon hijau dan bau khas hutan tropis.

Tapi berakhir disenjata pamungkas, " hanya emak yang tau" dilema tugas menulis. Mencari kayu rehab dan gas kompor yang habis saat jam sibuk masak.

Sungguh sangat tidak bersyukur bila, sang guru @maheszain yang rela berbagi ilmu. Namun sang murid berulang kali mencari pembenaran
Atas tugas tulis diakhir masa pengumpulan.

Tetaplah sudi menyemai ilmu, meski murid bergelar emak semakin menyipit lantaran jam semakin larut


Semoga Bermanfaat
Penulis: Doried Eka Septayani

Posting Komentar

0 Komentar